Bandung: The sick traveller

Pada medio Februari 2019, saya liburan colongan ke Bandung (lagi). Dari Yogyakarta saya naik keretaapi pkl 11 malam dan sampai di stasiun kota Bandung jam 8.30 pagi keesokan hari karena macet nya perjalanan..hmmmm. Di stasiun saya disambut seorang kawan dan kami langsung mencari makan lontong kari dalam keadaan sehat walafiat. Setelah sarapan, kami menuju kosan kawan untuk mandi, disinilah tragedi bermula, saya mulai malaise. Setelah mengabuse antipiretik analgetik, kami menuju hotel (dan saya semakin malaise). Hotel yang sudah saya booking berada dekat dengan RSHS. Dan sebelum bertemu dengan kawan yang satunya lagi, kami memutuskan minum es campur entah teler didepan hotel.

Hari itu tujuan kami adalah kawah putih di Ciwidey, Bandung Selatan. Sekitar 1 jam lebih kami berkendara menyusuri tanah tatar pasundan itu. Kawah putih hari itu menguarkan bau belerang yang menyengat. Dan tengah hari dikawah putih sama sekali tidak kami rekomendasikan karena panas

Warna hijau toska air kawah putih hanya untuk dinikmati, tidak untuk disentuh,apalagi dipakai buat mandi karena mengandung sulfur. Walaupun bernama kawah putih, namun mengunjunginya ketika terik membuat kulit semakin legam dan airnya malah berwarna hijau toska, tidak ada unsur putih dan memutihkan nya sama sekali.

Saya mendemam ketika dikawah putih, malaise semakin menjejadi dan lapar minta ampun. Tragisnya, tidak ada orang berjualan makan siang yang sesuai selera disekitar kawah putih.

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke situ patenggang sambil berharap ada warung makan dan kebon stroberi. Namun harapan tinggal harapan, pada akhirnya kami memasuki area kebon teh dan menepi diparkiran untuk mencari makan siang di bahtera besar situ patenggang.

Alam situ patenggang sangat asri memanjakan mata, suhu udaranya adem memanjakan kulit, namun makanan yang kami makan sama sekali tidak memanjakan lidah apalagi perut kami. Di lidah orang sakit seperti saya kala itu, manisnya makanan yang saya pesan sangat merusak tastebud, apalagi ditambah perut yang sudah banjir bandang asam klorida. Nafsu makan saya raib, ditambah ketiadaan minuman dingin yang menjadi kebutuhan primer saya ketika makan, maka siang itu saya ga makan sama sekali.

Sampai pada malamnya, kami mencari makanan hangat dan berbumbu, pilihan jatuh pada soto padang, namun lelagi saya serasa mau emesis. Kami terus mencari makan setelah makan soto padang dan berlabuh di pasar cisangkuy

Disini akhirnya saya bisa mengisi perut dan pulang ke hotel dalam kondisi perut kenyang, namun malam itu suhu badan naik beberapa derjat selsius, untung sudah sedia obat.

Pagi harinya, ternyata 1 kawan sudah sakit pula, namun kami tetap bersemangat jalan, karena hari itu ada junior yang ingin bermeet up. Sebelum meet up, kami mampir ke cisangkuy lagi untuk mencharge energi. Setelah itu kami meet up di Mall Paskal sebelum balik ke Yogya. Selesai ramah tamah, kami ke stasiun mengejar keretapi. Keretaapi Lodaya lah yang membawa saya menuju realita, bye bye Bandung dan liburan

Medio Februari 2019

Ps: sehari setelah perpisahan di stasiun KA Bandung, kawan yang satunya lagi (yang masih sehat ketika jalan jalan), jatuh sakit pula. Pesan moral dari tulisan ini, bahwa saya membawa penyakit virus dari Yogya (yang ditularkan oleh kawan kawan di Yogya ke saya, lalu saya tularkan lagi ke kawan kawan di Bandung). Im sorry, tak ada maksud…..mmmm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s