Melaka

IMG_20180618_112158

Hari I

Lebaran 1439 H jatuh pada tanggal 15 Juni 2018. Pemerintah sudah mencutikan pegawainya sejak tanggal 11 Juni, dan akan berakhir pada tanggal 20 Juni 2018, artinya ada sekitar 10 hari libur nasional (tak pandang agama) yang menurut pengamatan saya dalam beberapa hari setelah ritual lebaran dilakukan, perlu untuk dirayakan dengan liburan. Liburan lebaran.

Akhir April, saya sudah mengissued tiket Air Asia Pdg-KLIA2, untuk harga tiket PP tidak bisa dibilang murah maupun mahal, karena di Indonesia bepergian dalam masa cuti lebaran termasuk high season, yang perlu dituslah. Pada saat saya melakukan pemesanan via aplikasi Air Asia, harga 1.2 juta PP, masih masuk akal, sesuailah dengan situasi dan kondisi.

Walhasil pada tanggal 17 Juni, saya mengangkasa menuju negeri tetangga. Tujuan liburan adalah ke Melaka, yang katanya merupakan kota warisan dunia. Setahun yang lalu saya sempat berkeinginan untuk berpusing-pusing ke Melaka, dan tampaknya pada tahun 2018 ini, Tuhan membolehkan saya menjejakkan kaki di negeri yang didirikan oleh Parameswara, pelarian dari Sriwijaya itu.

Sesampai di KLIA 2 pada jam 14.00 waktu tempatan, saya langsung menuju level 1 untuk memesan tiket dikaunter bas. Ada 2 pilihan bas menuju Melaka yaitu bas Transnasional dan Star Mart. Karena saya tidak menyusun itinerary secara jelas, maka saya lupa untuk memesan tiket secara online di BusOnlineTicket.com, walhasil, saya harus menunggu selama 3 jam untuk berangkat menuju Melaka Sentral. Harga tiket bas Transnasional dengan tujuan Melaka Sentral adalah RM 24.10,-. Sebelum terbang ke Malaysia, saya memilih untuk membeli paket internet roaming dari Telkomsel yaitu paket Asia&Australia 1 GB untuk 3 hari dengan harga lumayan (Rp.115.000,-) di Traveloka, sehingga gak perlu gegontaganti simcard. Ini sangat berguna loh, apalagi bagi saya yang terbiasa liburan dengan gaya mutisme, yang jika memerlukan sesuatu tinggal googling dan menuruti instruksi google map. Bisa live report di media sosial adalah alasan lain (walaupun yang merespons minim)

Untuk keuangan, saya tidak menukarkan rupiah ke ringgit di Indonesia, karena saat itu saya punya 40 USD di saku. Saya memilih menukarkan di money changer salah satu bank yang ada di KLIA 2, sisanya saya berencana untuk mengambil uang di ATM dan juga menyiapkan kartu kredit untuk berjejaga.

Perjalanan ke Melaka dengan bas Transnasional dari KLIA 2 bisa ditempuh melalui jalan bebas hambatan selama 2-2.5 jam, tergantung kondisi lalu lintas. Oiya, Melaka Sentral ini semacam terminal bus pusat kalau dianalogikan dengan keadaan di tanah air, namun Melaka Sentral dirancang sedikit modern sih, kayak pasar souvenir dan banyak tempat makan.

Untuk penginapan, lagi-lagi saya mengandalkan Traveloka, dengan membaca review dan menganalisis lokasi, akhirnya pilihan jatuh ke sebuah hotel budget (semi) yaitu The Explorer Hotel, yang direservasi untuk 3 malam seharga Rp.700.000,-. (sudah termasuk internetan dan sarapan). Lokasi hotel nya sangat strategis, dekat Mahkota Parade Mall, Dataran Merdeka, Pahlawan Merdeka Megamall dan mall-mall lainnya, dan yang paling penting dekat dengan ikon Melaka (Stadhuys yang merah itu)

Dari Melaka Sentral ke Explorer Hotel membutuhkan perjalanan 20 menit dengan bas Panorama. Oiya, bas ini mangkal di Melaka Sentral, semacam bas domestik yang melayani rute antar daerah/spot dalam kota. Saya memilih naik bas Panorama nomer 17 yang salah satu tujuannya adalah bangunan merah. Harga tiket bas Panorama adalah RM 2,- dan dibayarkan langsung ke pak cik sopir dipintu bas.

Malam itu, suasana di sekitar stadhuys sangat padat oleh teturisan. Setelah bengong selama hampir 1 jam disekitar jonker street, saya akhirnya mengandalkan google map untuk mencapai Explorer Hotel. Setelah check in, saya langsung beristirahat, mengingat sudah jam 22.00 dan capek. Setelah istirahat, langsung menuju Mc. Donald diseberang jalan, entah kenapa kok porsi dan rasa serta harga burger McD di Malaysia rasanya lebih pas ketimbang yang ada ditanah air ya (ckckcckk).

IMG_20180617_214908

Hari II

Hujan lebat sejak semalam membasahi negeri Melaka, menjelang jam 11 siang, hujan berhenti dan saya dengan leluasa bisa bertandang ke spot-spot wisata disekitar kawasan bangunan merah. Awalnya saya memasuki muzium yang dibanderol dengan harga tiket RM 5,- (sebenarnya RM 10,-untuk turis mancanegara, namun pak cik petugas memberikan harga citizen ke saya, mungkin karena hanya saya yang saat itu satu-satunya orang yang masuk muzium dunia Islam dan Melayu itu, atau jangan-jangan karena wajah saya yang terlalu Melayu?). Puas mengamati bebenda yang dipamerkan, saya beranjak menuju A Famosa, sisa benteng bergaya Portugis. Foto-foto sebentar dan saya melanjutkan memanjat bukit kecil dibelakang benteng menuju pepuing Saint Paul Church bikinan Belanda. Untung siang, karena disekitar gereja banyak terdapat makam-makam Belanda.

IMG_20180618_110516

Dari atas Bukit St Paul ini kita dapat menyaksikan laut selat Melaka dan beberapa bagian kota. Saya kemudian menuruni bukit menuju Stadhuys, mengagumi kemerahannya dan kemudian memasuki bangunan merah tersebut yang telah disulap menjadi muzium sejarah, etnografi dan sastera, dengan harga tiket turis mancanegara sebesar RM 10,- Muzium ini secara jelas menceritakan secara diam kepada pengunjung tentang siapa sajakah penguasa Melaka semenjak didirikan, yang dimulai dengan kerajaan Melayu Melaka, lalu Portugis, Dutch, British dan Jepun, lalu menjadi bagian dari modern Malaysia.

IMG_20180618_111139.jpg

Banyak jenis muzium disekitar stadhuys ini, maunya semua dimasuki, namun apalah daya. Selanjutnya saya mengarahkan langkah ke replika Istana Kesultanan Melayu Melaka. Tiketnya entah RM 2 entah RM 5,-,lupa. Daleman istana ini agak mirip dengan Istana Basa Pagaruyung, bahkan didalam istana ini juga terdapat model miniatur Istana Basa Pagaruyung, oiya di muzium yang pertama saya masuki juga ada miniatur Istana Basa Pagaruyung yang menjadi bagian dari ruang pamer Sawahlunto yang ada dimuzium tersebut.

Akhirnya, petualangan hari II diakhiri dengan ngemall, makan dan belanja (lebih banyak windowshopping sih)

Hari III

Hujan lelagi menghiasi langit Melaka, sekitar pukul 10 pagi hujan berhenti menangisi tanah Melaka ini dan saya akhirnya bisa berjalan kaki menuju sungai Melaka. Jalan menuju sungai Melaka juga ditaburi spot wisata semisal adanya pusat oleh-oleh dan menara Tamingsari. Beberapa muzium lainnya juga berdiri tegak disepanjang jalan semisal muzium Samudera dan Kastam. Pagi ini saya berencana untuk menaiki river cruise (perahu) di sungai Melaka, tiketnya agak mahalan bagi teturisan mancanegara ini, sekitar RM 23,-. Perperahuan ini akan memakan waktu 40 menit, mengitari sungai Melaka yang sisi-sisinya berhiaskan berbagai bangunan cantik, dari yang tradisional sampai gedung modern. Berbagai macam mural menghiasi dedinding rumah penduduk, kekafean dan bebangunan lainnya. Terdapat kampung morten yang berisi rumah-rumah penduduk bergaya Melayu tradisional yang lestari. Tapi selama di perahu saya sakit gigi dan sesak kencing, jadi gak terlalu menikmati. 40 menit berlalu dalam diam yang menyakitkan, saat perahu kembali merapat ke dermaga, sesak kencing ilang dan sakit gigi lenyap. Di kafe terdekat saya akhirnya memesan air kelapa muda (yang sudah agak tua), namun dikemas menarik (mungkin khas Melaka)

IMG_20180619_104221.jpg

Dari area sungai Melaka, saya memesan Grab untuk menuju mesjid selat, yang lokasinya berada dipulau Melaka, tepat dipinggiran selat Melaka(semua serba Melaka ya, katanya Melaka itu sejenis batang pohon). RM 7,- itulah yang tertera dilayar HP, ya sudahlah, daripada berpepanas ria dengan berjalan kaki kesana. Sesampai di mesjid selat, banyak muslim jejadian berwajah oriental yang lagi foto-foto. Setelah solat Tahiyatul mesjid, fefoto dan menikmati sepoian angin selat, saya kembali mengGrab, -RM 5,-,menuju hotel.

IMG_20180619_122526.jpg

Magrib hari, saya memutuskan untuk solat di mesjid paling tua se-Melaka, berkat dukungan google akhirnya, mesjid paling tua diseantero negeri Hang Jebat ini saya temukan dan lelagi saya mengGrab-RM 5,- menuju Mesjid Kampung Hulu. Sebuah mesjid kuno berarsitektur Jawa Hindu, bahkan ada hiasan meriam tomong dikedua sisi pintu masuknya. Setelah solat, saya memutuskan untuk berjalan kaki menuju megamall via Jonker street dengan panduan google map. Dan menemukan sebuah mesjid kuno kampung Keling yang berarsitektur hampir mirip dengan mesjid Kampung Hulu. Udah 3 mesjid seharian ini, anehnya kok nama mesjidnya gak secantik nama-nama mesjid di Padang ya, tapi dari segi kekunoan, kecantikan dan keterawatan, juaralah memesjid di Melaka ini.

Hari IV

Hari ini adalah hari kepulangan ke tanah air. Tiket bas Transnasional yang berangkat dari Melaka Sentral jam 6.30 pagi sudah dibeli online beberapa hari yang lalu. Barang-barang sudah dipeking semalam, jam weker HP sudah disetel untuk dibangunkan jam 4.30 pagi, untuk mengejar penerbangan ke Padang yang boarding jam 10.20 waktu tempatan.

Tapi apa daya, saya malah terbangun jam 6.30, saat bas tercinta sudah terseok-seok menuju KLIA 2. Langsung stress donk, tanpa mandi dan tanpa sarapan (juga tanpa pis dan tanpa pup) saya langsung check out. Ditengah kepanikan yang mutisme, saya akhirnya kembali menggoogling, dan ternyata keberangkatan selanjutnya adalah bas Star mart jam 7.30 dari Mahkota Medical Hospital. Dan setelah dilihat, ternyata jarak antara hotel dengan kaunter bas di Mahkota Medical Hospital dekat (400m), akhirnya saya lelarian untuk memesan tiket bas ke KLIA 2. Cikwan penjaga kaunter menyebut bahwa bas yang berangkat jam 7.30 akan tiba di KLIA 2 jam 11. Whaattt??!!. OMG. Langsung memancur deras HCl didalam gaster. Harga tiket nya pun agak mahalan (RM 35,-). Setelah Subuh di MMH, langsunglah menunggu bas Star Mart, dan bas ini ternyata ngetem pula di Melaka Sentral 0.5 jam. Hujan menderas Melaka, sederas asam klorida yang sebentar lagi akan mengikis mukosa gaster dan menghasilkan hematin asam yang mungkin akan memelenakan feses. Pukul 8.30, bas rasmi meninggalkan Melaka, membawa sisa-sisa harapan yang diujung tanduk. Harga tiket sangat fantastis untuk ukuran KLIA 2-Padang yang terbang sore hari yaitu 1.6 juta sekali melangit. Saya merasa tidak sanggup untuk ketinggalan penerbangan ini, maka sejak bas membelakangi Melaka, saya langsung mematikan HP (agar tidak melihat jam melulu), memicingkan mata sembari berdoa agar pesawat delayed. Sepanjang perjalanan, saya setengah tertidur dan membuka mata tepat ketika bas berhenti. Dan ternyata bas sudah parkir didepan pintu masuk KLIA 2 pukul 10.05. Bas serasa terbang dari Melaka menuju KLIA 2, (1.5 jam). Alhamdulillah masih ada sedikit waktu jika pesawat boarding on time. Namun impian memupus semenjak menyadari betapa banyak prosesi yang mesti dilakukan demi mencapai kursi pesawat. Imigrasi yang lama, scanning yang banyak dan jarak yang jauh, membuat banjir bandang asam klorida tak terhindarkan. Lelarian kian kemari, melunturkan sisa ATP. Doa agar pesawat delayed terus dirapal sambil lelarian kecil. Untung sudah check in online, jadi ga rerepot print boarding pass (walau tetap dicoba sih). Akhirnya dengan napas ngengosan sampai jualah di ruang tunggu P7 jam 10.45 dan eng ing eng, belum boarding (Alhamdulillah) dan bahkan baru boarding 1 jam kemudian. Alhamdulillah doa terkabul dan tidak sampai 5 menit kemudian, menggerutu, kenapa lah mesti delayed. Dasar manusia.

IMG_20180619_102426.jpg

Padang, 20 Juni 2018

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s