Singapore Short Holiday

Semua berawal dari iklan Air Asia yang membuka penerbangan langsung Padang-Singapore pada Februari 2018. Demi melihat ada penawaran tiket murah, maka tanpa pikir panjang saya langsung mengissued tiket Air Asia Padang-Singapore, PP. Awalnya belom lihat kalender, hanya memilih jadwal berangkat saat weekend (meminimalisir bolos kerja) secara random, namun setelah konfirmasi ke kalender, ternyata waktu berangkat adalah tanggal merah 1 Imlek (horeeee, karena liburan tidak mengganggu pekerjaan!). Jadilah saya berangkat ke Singapore Jumat, tanggal 16 Februari 2018 dan pulang ke Padang nya, Minggu tanggal 18 Februari 2018.

Traveling ke Singapore merupakan perjalanan pertama saya keluar negeri dan ke Singapore seorang diri. Berbekal tekad, nekad, tanya-tanya sama teman dan google, akhirnya saya mengangkasa dengan menumpang Air Asia dari BIM Padang menuju T4 Changi Airport, Singapore. Hal yang menjadi momok bagi saya adalah imigrasi, karena mendengar cecerita orang yang pernah ke Singapore, imigrasi di Changi agak ketat, bahkan ada kawan saya yang pernah mengalami pemeriksaan yang sedikit njelimet di imigrasi Changi. Namun semua hanya prasangka saya, nyatanya urusan imigrasi di Bandara Changi sangat lancar.

Oiya, saat berangkat saya tak berhasil menemukan dolar Singapore diseantero money changer dan Maybank se Padang. Sempat juga waswas karena ga bawa uang tunai, namun ternyata ga masalah. Sekeluarnya dari imigrasi saya mencari ATM untuk menguras isinya yang sedikit itu. Untuk mencapai downtown of Singapore, transportasi murah adalah MRT di T3, oleh karena itu dengan bus bandara saya berpindah ke T3, namun singgah dulu di T2 untuk mencari makan siang. Sekelumit informasi yang saya dapat dari kawan dan internet, bahwa di Changi ada beberapa spot kantin karyawan yang letaknya tersembunyi yang menawarkan makanan harga murah yang pastinya akan menggiurkan setiap backpacker miskin.

IMG_20180216_123123.jpg

Setelah kenyang, barulah saya menuju T3 untuk naik MRT, namun sebelumnya tentu harus membeli kartu serba guna. Saya membeli kartu E-Z link card seharga 12 SGD, lalu men-top up 10 SGD untuk jaga-jaga. Dengan berbekal informasi dari kawan dan internet, akhirnya saya naik MRT Changi menuju stasiun Tanah Merah. Dari Tanah Merah ini ganti MRT Eastwest line lain dan turun di stasiun Bugis, karena penginapan saya berada di daerah Kampong Gelam.

Dari stasiun MRT Bugis, saya harus berjalan kaki sekitar 1 km menuju penginapan yaitu di jalan Aliwal street, sebuah penginapan untuk backpacker. Sekedar informasi, MRT di Singapore merupakan moda transportasi murah yang hampir menjangkau segenap sudut negeri Singa. Atas anjuran kawan saya membeli E-Z link card, yang mana kartu ini bisa dipakai juga untuk naik bus dan berbelanja; yang saya coba adalah di 711.

IMG_20180216_145259.jpg

Daerah sekitar hotel (Kampong Gelam) merupakan salah satu daerah turisme di Singapore. Di Kampung Gelam ini banyak terdapat pusat kuliner terutama kuliner halal dari berbagai penjuru negeri, seperti masakan Padang, North India, Turkish, Chinese, Malay and Lebanese etc. Disini juga berdiri megah Masjid Sultan yang ramai dikunjungi jamaah maupun turis. Disamping masjid terdapat Malay Heritage Centre. Sejarah Singapore dari kacamata Melayu dan Islam bisa dipelajari disini. Selain tempat kuliner, betebaran juga penginapan murah, toko dan gerai cenderamata.

IMG_20180216_175522.jpg

Karena kelebihan berjalan kaki, sesampai dihotel kedua tungkai dan kaki saya mengalami kram (ckckc). Setelah istirahat sejenak, saya memutuskan untuk jalan-jalan disekitar Arab street, menjambangi Malay Heritage Center dan Masjid Sultan untuk solat. Mesjid yang bagus, perpaduan Melayu dan Timur Tengah. Berdiri megah memayungi aktifitas manusia sekitarnya. Dan suasana didepan masjid sudah mirip dengan Padang, karena rata-rata jamaah adalah turis berbahasa Minangkabau (hfftt)

IMG_20180216_175306.jpg

Dan vagabondage hari itu diakhiri dengan makan malam di restoran Padang disamping penginapan. Malam berlalu dengan cepat, lampu-lampu metropolitan segera berganti dengan lampu Tuhan yang terbit dari timur. Hari kedua di Singapore saya berencana akan mengunjungi Singapore Zoo, di Mandai, yang tidak dilalui oleh MRT. Namun sebelum ke Mandai, saya menyelatan dulu, melihat kesibukan terminal Ferry di ujung stasiun MRT Marina South Pier, setelah itu menengok Merlion Park. Untuk mencapai Merlion Park, dari MRT Marine South Pier, cukup naik MRT dan turun di stasiun Raffles Place, hotel Fuelrton dan kita akan langsung tiba di pinggir Singapore river yang bersih dan terawat. Sedikit menyeberangi jalan (atau bisa juga dengan menyeberangi sungai via jembatan), maka kita akan bertemu dengan Merlion park tempat berdirinya patung Merlion besar (yang katanya merupakan landmark Singapore) dan juga mini Merlion.

IMG_20180217_090037.jpg

IMG_20180217_091548.jpg

Karena bertepatan dengan liburan tahun baru China dan weekend, maka umat manusia menyampah disana sini hampir disetiap penjuru spot wisata, tak terkecuali di Merlion park. Bagi saya yang udik, Singapore ini amazing, super clean, rapih dan bertabur skyscrapers yang menakjubkan. Suka banget. wakakaka.

IMG_20180217_091026

IMG_20180217_091134.jpg

Puas membakar sekian juta kalori dan menumpuk sekian juta asam laktat, saya memutuskan untuk mengakhiri perkelanaan disekitar Merlion Park, namun dehidrasi adalah alasan saya untuk segera angkat kaki dan pergi mencari mesin penjual minuman terdekat, disini mah serba salah juga, mau minum minuman sendiri rasanya seperti akan melakukan sebuah dosa…hmmm. Setelah hajat terpenuhi, saya mencari MRT jurusan Ang Mio Ko station dari stasiun Raffles Place itu. Ternyata setelah dilalui, jauh juga ya,karena secara geografis Singapore zoo terletak diutara dan Merlion Park ini diselatan. Sesampai di Ang Mio Ko MRT station saya nyambung perjalanan dengan bus nomor 138 jurusan Singapore Zoo.

IMG_20180217_113125.jpg

Antrian tiket panjang sekali, setelah 1 jam antri, barulah saya kebagian tiket, cash 33 SGD untuk Singapore Zoo saja. Dan umat manusia kayak dimusim haji menyemuti kebon binatang tersebut. Dan kembali saya mengorbankan sekian juta kalori dan asam laktat dibonusi dehidrasi sedang dan starvation. Saking luasnya, tidak semua binatang terkunjungi selama didalam zoo. Setelah berputar-putar 1.5 jam seorang diri, saya memutuskan untuk keluar dan langsung menuju bus station untuk kembali ke stasiun MRT Ang Mio Ko.

IMG_20180217_132231.jpg

Seperti kebon binatang besar lainnya, selain lemur-lemuran, monyet-monyetan juga biasanya menjadi hewan yang diajarkan perikemanusiaan di kebon binatang, karena sering terlihat jinak. Saya berkeliling kebeberapa spot di bonbin ini dan tidak berlebihan jika saya katakan koleksi hewan dibeberapa bonbin di Indonesia (yang pernah saya kunjungi) adalah setara dengan Singapore Zoo ini, seperti bonbin di Jatim Park Malang, bahkan Gembira Loka Zoo di Yogyakarta!. Please jangan membandingkan dengan bonbin di Bukittinggi ya!…hmmm.

IMG_20180217_121726.jpg

Setelah kecapekan dan kelaparan, saya memutuskan kembali ke penginapan dengan makan siang dulu di stasiun Ang Mio Ko (se porsi ayam penyet, yang dimenu seharga 5 SGD, namun kata penjualnya karena lagi hari raya, harga nya dituslah 0.5 cent). Dan setelah itu saya singgah di Bugis junction tepatnya meluncur ke Bugis street, yang kata orang adalah sorga belanja turis-turis kere. Dan setelah belanja ala kadarnya saya menyeret kaki ke penginapan. Sesampai dipenginapan saya rebahkan diri didalam ruangan full ac sambil meneguk bergalon-galon air dingin, benar-benar menyegarkan.

IMG_20180217_155031.jpg

Dan malam hari, sebelum bobok saya kembali menikmati malam terakhir di Kampong Gelam, Singapore. Terus terang saya suka suasana Kampong Gelam ini, ada Masjid Sultan sebagai icon nya, yang disekitarnya dipenuhi kafe-kafe yang disesaki turis berbagai ras dan kewarganegaraan. Kampong Gelam yang memiliki banyak bangunan tua khas Singapore dipagari oleh skyscrapers, ibarat desa tapi terasa sangat urban.

IMG_20180216_183824.jpg

IMG_20180217_193705.jpg

Keesokan harinya, sesaat setelah subuh, saya memaksakan langkah menuju Bugis MRT station untuk menuju Changi Airport. Saya melangkah gontai, bukan karena berat berpisah dengan Singapore saja, akan tetapi kaki benar-benar terasa sakit…

Bye bye Singapore!

Sampai ketemu lagi diliburan part selanjutnya!

 

Padang, 18 Feb 2018

Satu respons untuk “Singapore Short Holiday

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s