Dieng: Kayangan nan Dingin

Pada suatu akhir pekan di awal tahun 2016, saya yang kala itu masih sekolah di Yogyakarta berkunjung ke Semarang, ke tempat saudara. Dari kos-kosan disekitar Monjali saya naik trans Jogja menuju terminal Jombor. Dari Jombor saya menuju ke Semarang dengan bus Patas AC. Setelah menginap semalam di Semarang, saya dan adik menuju Dieng dengan menumpang bus yang bejalan selayaknya keong. Berangkat dari terminal Kertapati Semarang jam 9 pagi dan sampai di Wonosobo jam 3 sore. Dari Wonosobo kami menyambung bus ke puncak Dieng, yang merupakan sebuah tanah tertinggi di pulau Jawa. Dieng ini sepertinya berbagi tuan antara Wonosobo dengan Banjarnegara.

IMG_1244.JPG

Bus berderit memanjat tanah para dewa, Dieng, sekitar 2000 mdpl. Pemandangan selama diperjalanan sangat bagus, seolah-olah kita sedang menuju kayangan. Hijau dan indah. Puji Tuhan seru sekalin alam. Suhu udara Dieng disiang hari berkisar 16 dejt Celcius, serasa lagi diruangan full AC. Karena sudah kesorean, kami hanya sempat melancong ke area percandian. Ada macam-macam candi di Dieng, semuanya terlihat kuno. Sebut saja candi Arjuna, Gatotkaca dan masi beberapa lagi, semua bercirikan Hindu.

IMG_1129.JPG

Sore hari, hujan rinai dan kabut adalah sesuatu hal yang lumrah di dataran tinggi. Membuat suasana terasa magic. Seolah kilatan-kilatan masa lalu dihadirkan sejenak. So creepy, eh magic…Kembang kecubung menghiasi pepinggiran area percandian, merayu-rayu pengunjung untuk berpose sejenak dibawah lonceng-lonceng kuning tersebut.


IMG_1174.JPG

Menjelang mentari terbenam, kabut tipis belum jua tak nak beranjak dari pinggang Sindoro-Sumbing ini. Kami terus merancahkan kaki, menuju cecandian kecil disekitar komplek candi utama.

IMG_1195.JPG

IMG_1209.JPG

Senja akhirnya benar-benar temaram, kami menumpang bus terakhir dari puncak Dieng ke Wonosobo. Sepanjang perjalanan, lagi-lagi kami menemui banyak pesantren tradisional, mungkin Dieng dan Wonosobo juga berjuluk kota santri ya. Kamera ikutan berembun dan berkabut selama di Dieng dan menghasilkan gambar yang blur, sangat disayangkan.

IMG_1345.JPG

Semoga bisa kembali ke Dieng, mengeksplor kawah-kawahnya, alamnya, budaya potong rambut gimbal di bulan Agustus, mendaki Sindoro dan Sumbing, menyaksikan sunrise dari puncak Sikunir dan tentu saja memanen embunnya yang berupa es dipagi Agustus nan dingin.

 

 

Februari 2016

DIY

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s