Perkiraan PMI

Memperkirakan saat kematian (Post Mortem Interval=PMI) sangat penting dalam suatu penyidikan kasus kriminal. Dalam tulisan ringan ini dikemukan dua metode penentuan perkiraan waktu kematian yaitu:

  1. Metode tanatologik
  2. Metode entomologik

Metode tanatologik

Thanatologi berasal dari kata Thanato, yaitu sesuatu yang berkaitan dengan kematian dan logy yaitu mempelajari. Perubahan pada mayat yang dapat dijadikan parameter PMI adalah:

a. Penurunan suhu mayat (algor mortis)

b. Pembentukan lebam mayat (livor mortis)

c. Pembentukan kaku mayat (rigor mortis)

d.. Pembusukan

e. Lilin mayat (Adipocera)

f. Mumifikasi

g. Perubahan pada mata

h. Perubahan biokimiawi pada tubuh mayat

Lebam mayat

Lebam mayat (postmortem hypostasis) terjadi karena pengumpulan darah dalam pembuluh darah kecil pada bagian tubuh yang terendah, yang tidak tertekan karena gravitasi. Warna lebam mayat adalah merah keunguan. Pada keadaan kematian karena keracunan sianida dan karbon monoksida, lebam mayat akan berwarna merah terang (Cherry red).

Lebam mayat terbentuk 30 menit postmortem. Lebam mayat masih hilang jika ditekan berarti pmi dibawah 8-12 jam pm, dan tidak hilang dengan penekanan, pmi diatas 8-12 jam pm.

Kaku mayat

Kaku mayat terjadi pada otot, kadang-kadang diikuti pemendekan serabut otot yang terjadi setelah relaksasi primer. Pemendekan disebabkan oleh perubahan kimiawi pada protein serabut otot. Kaku mayat terjadi pada otot polos dan otot lurik.

Kaku mayat terbentuk 2 jam pm, mencapai puncaknya pada 12 jam pm dan menetap sampai 12 jam berikutnya (lengkap). Setelah 24 jam kaku menghilang sesuai urutan terjadi yaitu dimulai dari otot wajah, leher,lengan,dada,perut dan tungkai.

Keadaan yang menyerupai kaku mayat:

a. Cadaveric spasm:  kaku sekelompok otot atau keseluruhan tanpa didahului relaksasi primer terjadi karena korban mengalami aktifitas fisik atau psikologis berat sebelum mati. Keadaan ini menunjukkan intravitalitas.

b. Heat stiffening: kekakuan pada suhu tinggi akibat terjadi koagulasi protein akibat kebakaran/api misalnya keadaan pugilistic attitude.

c. Cold stiffening kekakuan yang terjadi pada suhu rendah.

Pembusukan

Merupakan keadaan bahan organik tubuh mengalami dekomposisi karena aktivitas bakteri dan autolisis. Tanda pertama adalah jenazah bau dan pada perut kanan bawah menjadi kehijauan (aktifitas c. welchii, pada sekum) yang terjadi pada waktu diatas 24 jam pm. Menurut Casper terdapat perbedaan kecepatan pembusukan dimana mayat setelah 1 minggu diudara terbuka adalah sama dengan 2 minggu didalam air dan 8 minggu didalam kuburan.

Tingkatan pembusukan secara garis besar dibagi menjadi:

1.Fresh: suhu turun, autolisis,livor dan rigor

2. Bloat: diskolorasi,pembengkakan tubuh,gas,lidah menjulur,keluar cairan,pembusukan akibat bakteri dan invertebrata

3. Putrefaction: Pembusukan progressif

4. Putrid dry remains: jaringan lunak hilang, kerangka

Adipocera

Keadaan dimana jaringan lemak mayat mengalami hidrolisis dan hidrogenisasi. Hidrolisis terjadi karena adanya enzim lesitinase yang dihasilkan oleh clostridium welchii. Adanya adiposera menunjukkan pmi 3 minggu keatas. Dipengaruhi juga oleh kondisi lingkungan.

Mumifikasi

Mumifikasi terjadi akibat pengaruh lingkungan, terjadi pengeringan pada tubuh mayat.Adanya mumifikasi menunjukkan pmi 3 minggu keatas.

Metode entomologik

Lalat dari ordo Diptera seperti blowflies merupakan organisme yang datang pertama kali ke tubuh mayat. Blowflies termasuk famili Calliphoridae dan sering dikenal sebagai bluebottles atau greenbottles. Pada mayat bisa didapatkan larva berbagai spesies.

Blowflies segera meletakkan telor nya pada mayat fresh dan segera menetas menjadi larva instar 1.  Setelah 24-48 jam larva instar 1 berubah menjadi larva instar 2 dan setelah 24-48 jam berikutnya menjadi larva instar 3. Larva instar 3 akan makan banyak dan tubuhnya membesar dalam 3-4 hari. Pupa biasanya terjadi ditanah. Perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh suhu, dan pupa bisa didapatkan beberapa hari sampai bulan. Lalat dewasa usia hidupnya beberapa minggu sampai beberapa bulan.

Pendekatan untuk menghitung pmi dengan metode entomologik ini adalah dengan mengalikan temperatur dengan waktu untuk mendapatkan ADH (accumulated degree hours) atau ADD (accumulated degree days).

Secara praktis, kita dapat menggunakan metode tanatologik berupa lebam mayat, kaku mayat dan pembusukan sebagai patokan kasar untuk menentukan pmi pada jenazah yang diperiksa. Jika terdapat larva, maka larva harus dikirim ke laboratorium entomologi/parasitologi untuk penentuan spesies dan ukuran larva yang akan sangat membantu dalam perkiraan pmi.

Pengiriman larva ke laboratorium dapat dilakukan dengan:

  1. Ambil larva terbesar dari berbagai jenis larva pada tubuh mayat secukupnya
  2. Siram larva dengan air panas untuk mematikan larva
  3. Kemudian larva dimasukkan kedalam alkohol 70%
  4. Beri label dan kirim segera ke laboratorium

 

Sekian….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s